tentang pernikahan dan sindrom rumah boneka


 

Saya takut pernikahan.

Tepatnya, saya takut untuk menikah – jujur saja.

Kemarin dulu, sudah agak lama, kira-kira awal Juli 2007, saya diajak bapak saya untuk menjadi ‘rombongan mempelai laki-laki’ yang hendak menghaturkan ‘hantaran pernikahan’ ke keluarga ‘mempelai perempuan’. (Ngomong-ngomong, rasanya enak ya saat kita berkata ‘mempelai’, cobalah! Rasanya seolah-olah bahasa menjadikan bunyinya begitu lembut seperti ‘terbelai’, ‘terbuai’, ‘terkulai’, ‘cerpelai’, ah…)

Oya, si mempelai laki-laki, sebut saja R, masih terhitung kerabat dekat keluarga saya. Nah, si R ini dulu teman sepermainan saya jamannya kami masih suka Satria Baja Hitam dan Sein Seiya. Si R ini berusia 23 tahun, sedangkan si mempelai perempuan, sebut saja D, baru saja ‘fresh from the high-school oven’. R dan D ini, setahu saya sudah berpacaran sejak tahun 2005. Ini bukan mau membahas romantika kisah kasih mereka lho, seperti yang ada setiap hari di infotainment tivi yang Ayu Utami sebut seperti kuntilanak, yang cuma bisa kakakkikik kakakkikik…bukan…karena mereka ini masih tetangga saya (bukan kuntilanaknya, tapi R dan D tadi).

Nah, waktu saya diajak ke acara pernikahannya sih, ayo-ayo saja. Saya pengen tahu saja bagaimana ekspresi anak muda jaman sekarang saat menikah di usia muda, apalagi dua-duanya saya sudah kenal baik. Kami berangkat dari rumahnya dengan tiga mobil yang penuh dengan segala macam famili dan barang-barang hantaran.

Mobil yang saya tumpangi melaju cepat menuju utara Jogja sore itu. Saya duduk di kursi belakang, berjejalan dengan adik saya dan tumpukan hadiah-hadiah untuk mempelai perempuan. Ketika saya melihat ke sekeliling dan mengamati bentuk-bentuk yang menurut saya ajaib, saya meringis sekaligus tersenyum, tersenyum sekaligus meringis.

Ada 2 kotak masing-masing berisi jenang ketan manis berwarna putih dan merah jambu berbentuk hati yang dihias dengan sangat manis dengan pita-pita merah jambu.  Lalu ada sekeranjang ‘girl stuff’ yang isinya be-ha ukuran 36B (wah, saudara saya ini ternyata pintar memilih ukuran rupanya) berwarna pink tua, celana dalam satin sewarna, hand&body lotion, sampo anti ketombe, lipstik, bedak padat, pelembab, dan pembersih-penyegar yang ajaibnya, ini yang saya batin dari tadi, semua kemasannya berwarna pink! Pemilihannya tidak berdasar merk tapi warna kemasan.

Ah, generalisasi pemaknaan atas warna ternyata sudah sangat mencapai ranah-ranah pribadi. Namun, interpretasi terhadap warna sendiri juga masih sangat terbuka kok, dalam arti ya jangan sampai terkondisi dengan warna. Mungkin si R menganggap warna merah jambu cocok dengan warna kulit si D. Jadi ya sah-sah saja… Saya ya bisanya geleng-geleng kepala tersenyum mengingat si R sangat niat sekali dengan warna-warna merah jambu. Atau mungkin saat itu dia melihat semuanya dengan kacamata merah jambu? Ah…

Ternyata tumpukan hadiahnya masih banyak. Ada keranjang pink berisi tas tangan putih imut dan sandal high-heels hitam yang cukup seksi (asal bukan saya saja yang memakainya). Lalu sekeranjang apel, jeruk, dan pisang yang dipenuhi dengan hiasan pita-pita dan kertas krep berwarna merah jambu (lagi). Bahkan, di setiap ujung buah pisangnya diberi topi merah jambu. Ah, saya lebih senang menyebut ‘helm di atas pisang’ daripada topi, kesannya lebih mengena saja :)

Oya, tidak hanya itu. Belum lagi di kaki saya yang berdesakan dengan kaki adik saya. Ada setumpuk barang di situ: sekarung beras, gula pasir, minyak sayur, telur, dan yang ini tidak di dekat kaki saya tapi di tumpukan paling atas dan terhormat adalah kotak kecil merah jambu berisi cincin emas dan uang satu juta rupiah yang ditata rapi serupa mawar mekar (lagi-lagi uang pink!).

Ah…saya tersenyum dan meringis sekaligus.

Bapak saya bertanya kepada bapaknya R, hendak tinggal di mana kelak R dan D setelah menikah. Dengan bangga, bapaknya R menjawab, ia telah membeli secara kredit sebuah rumah sederhana sekali (RSS) di bilangan selatan kota, khusus untuk ‘pasangan pengantin baru’. Sungguh bapak yang baik!

Saya tersenyum lagi.

Kemudian tiba-tiba saja semuanya seolah dipercepat seperti ada yang memencet tombol ‘ffwd’ di radio saya. Saya melihat wajah-wajah tegang saat kedua mempelai saling bertemu, wajah-wajah bahagia keluarga mempelai (terutama keluarga si D karena mendapat jatah sembako gratis), dan wajah ingin-tahu saya yang serupa dengan wajah ingin-tahu para anak kecil yang berlarian hendak melihat seperti apa rupa sang pangeran.

Wajah R tegang sekali. Keringat menitik beberapa di dahinya. Senyumnya tegang dan saat saya mengajaknya bersalaman, tangannya gemetar dan basah. Prosesi berjalan lancar. Bapak saya menjadi ‘kyai informal’ yang mendoakan pasangan agar ‘sakinah mawadah warohmah’ dan semuanya beramin-amin dengan khidmat. Saat mereka berikrar, saya seperti terlempar dari ruang dan waktu seakan berhenti.

Janji-janji pernikahan, saling lirik malu-malu, jari-jari bertaut, cincin mengkilap terpasang, dua buku hijau kecil berstempel, dan desah nafas tertahan yang menjanjikan kenikmatan nanti malam. Lalu cium dahi dan kening dan tangan. Lalu tepuk tangan dan senyum lebar dengan pikiran:

“Akhirnya, aku sudah menikah!”

m-e-n-i-k-a-h.

Sepertinya sangat indah sekali scene di atas, semuanya serba suci dan khusyuk. Saat itulah aku menggigil. Tepat saat itu pula tetanggaku yang juga ikut rombongan bertanya polos, “Kapan giliranmu?”

Aku meringis.

Aku takut pernikahan, tepatnya aku takut untuk menikah.

Kamu boleh tertawa dan menertawaiku, tidak apa-apa, itu manusiawi.

Aku hanya berpikir bahwa pernikahan adalah institusi, sebuah bentuk pengesahan atas nama cinta dan seks secara formal – de facto dan de jure serta agama maupun hukum – yang mengikat sepasang manusia dan menggiringnya ke dalam konstruksi sosial lain yang bernama: keluarga.

Pernikahan sepertinya sudah masuk ke dalam lingkar hidup manusia, padahal bukankah life cycle manusia itu ya: lahir-hidup-mati?

Tapi ya…lagi-lagi sistem sosial telah menambahinya menjadi:

lahir-hidup-sekolah-kuliah-menikah-kerja-punya anak-tua-mati.

Kenapa saya takut menikah?

Pertama, karena saya merasa pernikahan itu mubazir. Selain karena pernikahan adalah satu-satunya lembaga yang dianggap valid untuk berhubungan seksual dengan pasangan masing-masing, juga karena untuk menikah pasti membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Si R misalnya, bapaknya mengaku kalau sudah merogoh kocek sampai 25 juta, termasuk untuk membayar tiga mobil sewaan yang salah satunya saya tumpangi dengan segala uba rampe merah jambunya. Belum lagi cicilan rumah untuk si pengantin anyar.

Kalau saya punya 25 juta, saya mau ke Belgia mencicipi bir yang dibuat para biarawan dan keliling Eropa jadi backpacker.

Kedua, pernikahan itu ‘tidak seindah warna aslinya’, kata Fuji Foto. Maksud saya, akan terlihat indah pada awalnya namun lama kelamaan ya biasa-biasa saja. Kebanyakan perempuan akan mengalami apa yang saya sebut sebagai:

“sindrom-rumah-boneka”.

Saya punya kakak kelas SD, sebut saja H, yang baru saja menikah dengan gadis idaman hatinya beberapa bulan lalu. Saya tak sempat datang ke resepsinya, namun saya malah tertarik dengan undangan pernikahannya. Undangannya sederhana, yang mencolok adalah ada tiga foto pengantin di masing-masing halaman dengan busana yang berbeda-beda: adat Kalimantan, adat Jawa, dan busana muslim.Tak ada yang tersenyum dalam foto-foto itu. Semua diam, kaku, seperti pas foto 3x4. Wajah-wajah tegang yang pernah saya jumpai setahun lalu saat pernikahan si R.

Si H ini umurnya juga masih muda, 25 tahun, sedang istrinya 24 tahun. Bagi saya, mereka masih sangat muda. Kalau ada yang menganggap umur 25 tahun sudah tua dan sudah pantas punya bini dan anak, berarti dia terjebak oleh (lagi-lagi) sistem dan konstruksi sosial. (Hey, Bung dan Nona! Kalian masih segar, muda dan produktif! Ayo bangun!)

Nah, apa yang saya rumuskan dengan “sindrom-rumah-boneka” itulah yang terjadi pada istri kakak kelas saya itu, si gadis dari Kalimantan. (Oya, saya tidak bicara kesukuan ataupun primordial, kebetulan istri si H itu orang Kalimantan, itu saja).

Setiap pagi, saya selalu melewati halaman rumah pasangan muda itu. Rumah yang rapi dan bertaman aglonema. Rumah yang dibelikan orangtua si H sebagai hadiah pernikahan (kasusnya sama seperti R, mungkin sedang nge-tren kali ya?). Yang agak lucu sebenarnya, karena tempat tinggal orangtua H hanya berjarak 50 meter dari ‘rumah hadiah’ itu.

Rumah itu berjendela kaca besar-besar, sehingga jika cahaya dalam rumah cukup terang, saya bisa melihat aktivitas yang dilakukan si penghuni rumah dengan jelas. Setiap pagi, saat saya hendak berangkat ke kampus atau ke mana, saya selalu mendengar siaran tivi yang menyala dan sepasang kaki perempuan yang terjulur di atas sofa empuk. Bisaanya siaran semacam gosap-gosip pagi yang penuh kakakkikik kuntilanak.

Waktu saya pulang sore harinya, si istri sedang menyapu halaman, sepertinya semacam kegiatan jeda untuk menunggu sang suami pulang dari kantor. Dalam beberapa kesempatan bertemu di kios kelontong Mbak Mimin, saya melihatnya berbelanja telur dan gula atau kopi dan indomi. Dan kerap-kerapnya saya selalu melihatnya sendiri dalam rumah berjendela besar itu, kadang ia membiarkan tivinya menyala, atau sekali waktu menyiram taman, atau hanya duduk-duduk saja sambil melamun.

Hingga saya sendiri tak bosan-bosan lewat jalan itu setiap hari…

Saya bertanya-tanya, apakah yang ada dalam pikirannya saat ia memutuskan untuk menikah jika setelah menikah ia hanya menjadi penunggu rumah yang setia saja – masak, cuci-cuci, tidur bersama dan menunggu hari lagi untuk melakukan hal-hal yang sama tanpa keluar dari “rumah boneka”nya.

Seperti gadis kecil seusia tujuh tahun yang masih asyik bermain dengan rumah bonekanya: menata baju-baju, memasak, berdandan, mencuci baju dan piring kotor, lalu main ‘dokter-dokteran’ (atau kata Julia Perez, belah duren).

Saya teringat, dulu waktu saya kecil, saya juga senang bermain ‘anak-anakan kertas’. Biasanya beramai-ramai dengan teman SD. Kami punya rumah kecil yang bisa kami atur, kami berbelanja, masak, menyapu, lalu bertemu dengan ‘pria-tampan-bermobil-rokok-Bentoel’, menikah, beranak, dan seterusnya. Itulah rumah boneka saya dulu.

Saya menyimpan semua ‘perlengkapan penting dalam keluarga’ itu dalam sebuah kaleng Khong Guan bekas dan memasukkan baju-baju kertas ke dalam bungkus-bungkus rokok Bentoel atau 76 bapak saya, yang kami anggap sebagai harta karun. Eits, kalau kamu kreatif bermain anak-anakan kertas, maka bungkus rokok bisa jadi mobil, tempat tidur, lemari, dinding rumah, tangga, pintu gerbang, jembatan, pintu dan kulkas. Coba saja! :)

Saya tidak pernah ingat sejak kapan saya bisa tertarik bermain rumah boneka dengan boneka kertas dan melakukan pekerjaan rumah tangga yang sampai saat ini saya tidak pernah melakukannya lagi, karena satu-satunya pekerjaan domestik yang saya suka hanyalah cuci piring!

“Sindrom-rumah-boneka” bisa saya sebut sebagai keinginan kuat akan romantisme masa kecil dan memori-memori untuk mengulang kembali permainan ‘anak-anakan kertas’ saat semua bahannya sudah terhidang di depan mata: rumah, dapur, baju-baju, tempat tidur, dan suami.

Sayangnya, suami bukan dari kertas dan tidak bisa dimainkan dengan jari. Beda dengan suami dari kertas yang naik mobil rokok 76 misalnya, yang bisa kita atur kapan pulang kerjanya dan kapan main ‘dokter-dokteran’nya.

Dan sayangnya lagi, saat “sindrom-rumah-boneka” hadir, sadar atau tidak sadar, sang istri akan menemukan dirinya terjebak dalam rumah boneka yang besar (yang berjendela kaca besar-besar dan bertaman aglonema) dan merasa bahwa tugas istri adalah melulu mengerjakan apa yang ada dalam rumah bonekanya. Sehingga saat ia sadar bahwa ia (mungkin) capek untuk bermain boneka-bonekaan, ia tidak bisa begitu saja bilang:

“Berhenti yuk, aku capek nih…besok kita maen lagi ya…ntar aku bawain rumah berbi punyaku wis…”

Seperti saat ia masih kecil dulu, karena sekarang ia sudah terikat janji-janji di depan penghulu dan hijaunya kartu nikah.

Dan saya, kalau pacar saya membelikan saya rumah, saya akan menyulap ‘rumah boneka’ itu menjadi ‘rumah seni&galeri’. Wah, betapa senangnya! :)

Ketiga (ini masih membicarakan mengapa saya takut menikah), karena saya masih berpikir-pikir tentang konsep-konsep hubungan, komitmen, dan relasi pacar atau bebojoan. Kata teman saya Lisis, yang keukeuh untuk tidak menjalin komitmen dengan siapapun (kecuali dengan saya tentunya), bahwa hubungan antarmanusia itu hanya berdasar prinsip kepentingan semata. Kepentingan dan kebutuhan pribadi.

Dan pacar saya setuju dengan pendapat itu.

Makanya, saya juga masih berpikir-pikir lagi, tapi tentu saja juga menikmatinya! Karena kapan lagi saya punya pacar ganteng yang pinter dan ‘sok nyeniman’ itu? :)

Ketika saya nyaman dalam sebuah hubungan (yang mana saya dan pacar saya sadar bahwa hubungan ini berdasar kepentingan) dan mendapat umpan balik yang sama-sama positif dan membangun satu sama lain, saya mungkin akan tetap menjaga hubungan ini untuk tidak sampai ke institusi pernikahan…

Setidaknya hingga saat saya menulis huruf-huruf ini, toh siapa tahu saya nanti berubah pikiran dan memutuskan untuk menikah. Namun untuk saat ini, saya tidak ingin dan tidak mau menikah.

Dan kalau pacar saya mengajak saya menikah bagaimana? Ah, sepertinya tidak mungkin, 30 tahun lagi mungkin :) Tapi kalau mungkin bagaimana? Ya…saya tidak tahu jawabannya sekarang, karena mungkin saja, dan ini satu-satunya kemungkinan pacar saya mengajak saya menikah, itu hanya kalau dia sedang mabuk waktu ngomong itu, hahaha!

Keempat, ini lebih karena masalah keluarga dan menyangkut latar belakang psikologis saya. Untuk yang ini, ceritanya kapan-kapan saja. Bisa tanya saya langsung di kampus atau pas diskusi Orong-Orong.

Akhirnya, itulah beberapa alasan kenapa saya takut menikah. Menjalin hubungan yang sudah cukup lama ini pun bagi saya sama saja dengan konsep “menikah”nya teman saya R dan H tadi. Bedanya, satunya masih terbuka dengan wacana-wacana dan pemikiran untuk berkarya, yang lain terikat dalam sistem norma dan konstruksi masyarakat (yang sayangnya dan umumnya masih patriarkis) yang berpayungkan romantisme semu akan ‘rumah-boneka’ atau ‘dokter-dokteran’, atau ‘happily-everafter’nya Cinderella.

Menikah itu memang baik (katanya…) tapi tidak cukup baik untuk saya.

Biarlah yang masih ingin memakai kacamata merah jambu, tetap dipakai,

tidak ada yang melarang kok…

Namun yang sudah tidak ingin pakai kacamata lagi ya jangan malah ganti kacamata kuda, bahaya!

Yang penting, kata pacar saya, berpikirlah kritis!

Kalau itu saya setuju.

Jogja, 240808, 01:07 a.m.

----------------------
Invani Lela Herliana
Yayasan Pondok Rakyat
Nagan Lor 19 Yogyakarta 55133
(0274) 372525
www.ypr.or.id

Totem and Reliability

Poster_greg_

Solo Painting Exhibition by Greg Sindana


Start Time:
Friday, May 21, 2010 at 7:30pm
End Time:
Wednesday, May 26, 2010 at 10:30pm
Location:
Ruang Budaya PKBI
Street:
Jalan Gandekan Lor 42 B
City/Town:
Yogyakarta, Indonesia

Kesederhanaan disebut sebagai keniscayaan, kemuskilan adalah keberuntungan. Disaat jaman menjadi begitu konseptual dan teriris maka yang sebaiknya hadir adalah diri yang hening, menuju kemana? Itu yang tak bisa dijawab oleh orang lain. Teks menjadi pembungkus nurani dan dunia abadi. Rasio menjadi aparat yang lebih kuasa daripada polisi. Kemana dan siapa kita? Itu jawaban yang tak bisa dijawab. Ada sesuatu yang akan terjadi, jadi mari kita kesampingkan keruntuhan jaman, mari berbagi dan menjalani.

-greg Sindana-

--------------------------------------------------------------------------------------

Totem dan Reliabilitas

-Kenyataan yang Terkonsep-

Seperti Menara Babel?

Salam damai, Ini sederhana saja, ada perasaan bahwa harus menghidupi sendi-sendi hidup, ‘Perasaan harus’ menjadi mata yang tak terlihat, tetapi ketat mengawasi, nah mata-mata-mata ini ya pengetahuan-pengetahuan yang menumpuk, melahirkan asumsi-asumsi, ketakutan-ketakutan, dan gambaran-gambaran yang seakan-akan nyata, dan harus di-nyata-kan, menutupi yang jujur, yang nurani sifatnya.

Subjek adalah remah-remah teks, teks yang bermain ini, menjadi serius, terlalu serius, terlalu rumit dan terlalu bohong, maka ini pembawa pesan sederhana dan bicara apa adanya seperti gambar-gambar purba di Gua di tengah padang rumput yang segar dan cerah atau di puncak bukit yang sedang hujan, atau di pinggir pantai yang berombak dan angin lembut.

Ketika remah-remah ditumpuk, yang ada adalah kebosanan yang tampaknya ’ peradaban’ . Yang malahan jadi kebosanan yang numpuk dengan remah-remah yang dibakukan, jadi teks yang dibakukan lalu diteruskan, terus-menerus, menumpuk, menghimpit generasi berikutnya, menumpuk-numpuk,menghimpit lagi, dan akan lebih menghimpit lagi seterusnya.

Tumpukan ini jadi totem yang adalah pesan, pesan ‘yang jadi’ akan terus menumpuk di pikiran, pikiran jadi penuh totem-totem berhala yang menghimpit, air jadi keruh, dan tak ada lagi mata air yang sederhana, juga genthong-genthong penuh air di depan rumah yang diperuntukkan bagi siapapun.

Berdiri di atas remah-remah teks:
Hasil dari baca terus, dialog, dan kemudian mak cling bahwa pengetahuan, nilai, kekangan sebetulnya adalah ciptaan manusia sendiri, dan berbalik jadi mata yang mengawasi sang penciptanya seakan mengkomandokan- si pencipta dalam tiap gesture yang terarah, dalam komunikasi terarah yang transaksional -semua dalam rangka konstruksi teks, yang bakal numpuk lagi.

Pameran (katakanlah demikian) ini mengajak kembali pada diri(nya) sendiri, mengajak kita melihat kesemena-menaan penamaan, pengkotakan dan kembali.

Bagi sang kreator sendiri , ini adalah zakat, ketika zakat dipahami sebagai peluang, organisatoris, dan bisnis minded.

Natan Arya

------------------------------------------------------------------------------------

Performances:
- Bangkai Kepiting
- Garda Puisi
- Otong Guritata dan Thedeo
- Senut Senut
- Sumitra

a tribute to Greg Sindana...

Greg3

...biksu kecil yang bandel...

mabuk parasetamol...

Mabuk

inilah wajahku
saat
mabuk parasetamol...

.............

...feetishism...

Kakiku

fetish...
fetishism..

feet-ishism...
feet-is-his-m....

FETISH!

...spasmic numb...

Senja

fingers...
thumbs...
slits...
pants...
vibes...

spasm
spasm
spasm
spasmic rhythm...

spasm
spasm
spasm
spasmic dance...

spasm
spasm
spasm
spasmic nerves...

spasm
spasm
spasm
spasmic soul...

amidst the dusk
i watched from my wooden window...


A.L.O.N.E


 

Sido Semi, Kotagede -- a slice of Mataram in its bowl ---

Sido Semi...

it is the name of an old-style kiosk in Kotagede...
located near the Sultan Cemetery Complex of the Ancient Mataram Kingdom...
it is a best place to take a rest for a while...
enjoying a bowl of meat ball..
or a bottle of sarsaparilla...
or like me...
a bowl of green pea soup and sticky rice with ice...

besides,
you can find Javanese transcription everywhere...

a warning to switch off the lamp...in Javanese
the menu....in Javanese
and a philosophical sayings in Javanese...

you should come here when you are in Kotagede!!!

definitely!
:)

and don't come here in Tuesday! they are closed :)



(download)

...no beer today, but it's okay!

yesterday (10/1)...

Greg and I were riding along the road to find some refreshments (in the literal meaning)...
after we attended public hearing Biennale X Jogja Jamming in Jogja National Museum
and watched performance arts 'Ciak Lumpur' by Bonnyong Munni Ardhi...

and finally Greg had a great idea...

off we went to Kotagede!
we went to such a old-style kiosk...
with Javanese transcription everywhere....
and homy atmosphere :)
i ordered green pea ice with sticky rice, and Greg: a bottle of sarsaparilla! hahahaha...

then we strolled along the old kampong...
and went back at dusk
passing through the gate of Mataram...

and finally sat again in Pendopo Ndalem with two glasses of spices beverages...
for me a glass of Wedang Bledug: lemon grass, cloves, ginger, lemon, palm sugar
and for Greg a glass of No Name: lemon, palm sugar, lemon grass

yummy :)

hihihihi...


no beer today, comrade!
but it;s okay!!!
:)


(download)

About

a wonderful entity for her own self...

Facebook